Travel Planning and Safety Tips

No matter what your destinations but it is very important who's your side! HdG Team the best Guide in Garut.

Pelestari Motif Batik Garutan

Domba Garut yang tanduknya khas melingkar sampai ke bawah telinga jadi ide untuk Iman Romdiana (43) untuk bikin satu motif batik garut catat asli Garut, Jawa Barat. Pelestari motif batik catat dari Gang Gunung Kasur, Jalan Ciledug, Garut Kota, ini senantiasa menggali potensi alam Garut, dari mulai binatang sampai tanaman, untuk bikin beberapa ratus motif batik ”Beken” yang dikembangkannya.


Merak ibing (burung merak menari), bulu hayam (bulu ayam), mojang (gadis) Priangan, atau kurunghayam (kurung ayam) adalah empat dari sepuluh lebih motif asli Garut yang di kembangkan Iman. Bapak beranak satu ini dapat meningkatkan turunan motif dari 420 motif batik yang ada di Jawa Barat. Iman nyaris hafal diluar kepala ke 420 motif yang dikembangkannya itu, disampaikan di Hotel di Garut paling ramah, Kampung Sampireun .

Nama Beken tersebut adalah pemberian Ketua Yayasan Batik Jawa Barat Sendy Ramania Dede Yusuf. Awal mulanya keluarga Iman menamakan batiknya yaitu Buken, yang disebut singkatan dari Ibu K Sukaenah, ibunya Iman yang melanjutkan etika batik dari leluhurnya. ”Lebih keren bila namanya batik beken supaya populer ke mana-mana. Sejak tersebut nama Beken kami gunakan, ” kenang Iman waktu istri Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf (2008-2013) memberikannya nama itu lima th. lantas.

Keluarga Ibu K Sukaenah adalah satu dari beberapa puluh keluarga yang sampai saat ini melestarikan etika batik garutan, sebutan untuk batik asli Garut. Histori batik garut, menurut keluarga Sukaenah, seperti tercatat dalam website Batikgarutku. com, adalah warisan turun temurun serta sudah berkembang saat sebelum periode kemerdekaan. Sesudah kemerdekaan, batik garut tambah disukai banyak orang dengan sebutan batik catat garutan serta alami periode jaya th. 1967-1985.

Bersamaan dengan beragam terbatasnya, mulai berbahan baku kain basic, modal, serta lemahnya pemasaran, kesibukan beberapa penerus atau generasi batik garut alami gunakan surut. Ditambah timbulnya persaingan cukup kuat dari produsen batik lain yang memanfaatkan tehnik moderen, seperti mesinprinting, kesibukan pelestari batik tradisional tambah tersisih.

Potensi batik tradisional tumbuh kembali sesudah memperoleh angin fresh dari ”tradisi batik Jumat”, yaitu pemanfaatan seragam batik oleh beberapa karyawan, terlebih pegawai negeri sipil. Keadaan itu juga mengimbas pada usaha batik catat Garut asli yang digeluti keluarga Ibu K Sukaenah.

Dari alam Garut

Iman coba tampak dengan bikin motif batik asli Garut serta meningkatkan motif yang telah ada di market. Lagi juga Teh Ani, putri sulung Ibu K Sukaenah yang juga kakak Iman, lebih tertarik menjualkan batik.

”Saya cuma bertugas menunggui stan serta jual batik pada pengunjung. Yang bikin, termasuk juga membuat motifnya, yaitu adik saya, Iman, ” kata Teh Ani waktu ikuti pameran di halaman pendopo Kabupaten Garut, awal Mei lantas.

Menurut Teh Ani, adiknya lebih cepat mengerti serta bikin motif batik seandainya ada orang membeli.

Di kelompok pembatik catat, batik kerap disimpulkan ”menulis titik” yang di ambil dari campuran kata amba serta titik dalam bhs Jawa. Zaman dulu, batik cuma ditulis serta dilukis memanfaatkan daun lontar dengan motif yang menguasai yaitu binatang serta tumbuhan. Corak batik sendiri memiliki filosofi dari tiap-tiap daerah itu berasal jadi tiap-tiap daerah memiliki motif serta corak yang tidak sama.

Begitupun batik-batik yang di kembangkan Iman yaitu motif yang datang dari alam seputar Garut. Ketrampilan bikin motif batik awalannya cuma belajar sendiri. Iman tak belajar spesial batik dari sekolah resmi lantaran pendidikanya cuma hingga di SMP. Namun, ia ”dikuliahkan” untuk memahami beragam motif batik oleh beberapa lembaga di Garut, seperti Dinas Perindustrian atau Dinas Koperasi serta Usaha Kecil Menengah.

”Saya hingga delapan kali dikuliahkan oleh Dinas Perindustrian Garut, ” pungkasnya.

Dinas-dinas itu menguliahkan Iman lantaran lihat ketrampilan bikin motif batik yang dipunyai anak ke-2 Ibu K Sukaenah ini. Bertahun- th. hasil kursus itu dibutuhkan untuk melatih beberapa pembatik lain yang masih tetap menghasilkan batik catat di kabupaten ini.

Saat ini pekerjaan Iman tidak cuman bikin motif batik untuk di kembangkan oleh keluarganya juga melatih pembatik tradisional yang ada di lingkungan Kabupaten Garut. Di tempat tinggalnya, seputar 20 potong batik catat di produksi tiap-tiap bulannya.

Batik catat adalah type batik yang langkah membuatnya memanfaatkan tangan serta dihiasi dengan corak serta struktur spesifik. Saat pelaksanaannya menggunakan saat rata-rata 1bulan per potong serta di jual seputar Rp 1, 5 juta per potong.

Keluarga Iman juga bikin batik cap, type batik yang saat pelaksanaannya lebih cepat dari pembuatan batik catat. Batik cap ini satuhari dapat di buat hingga 2 kodi (1 kodi 20 potong) serta di pasarkan ke beberapa pedagang serta produsen batik di Bandung. Oleh pedagang di Bandung serta Jakarta, batik garutan yang di buat keluarga Iman telah di pasarkan ke Singapura serta Malaysia.

Pameran Batik

Untuk memperkenalkan batik tradisional ini keluarga Iman sering ikuti beragam pameran baik yang di adakan pemerintah daerah serta mal. Pamerannya berkeliling, dari mulai Garut, Bandung, Jakarta, sampai ke Bali. ”Kami pernah diikutsertakan pameran di Istana Negara di Jakarta, ” bebernya.

Keluarga ini dapat terima pesanan motif batik sesuai apa yang dinginkan pemesannya. Umumnya pemesan membawa gambar spesifik untuk dibuatkan kain batiknya. Iman lantas menggambar serta membuat motifnya, lalu pembatik menuliskan motif itu pada kain. Motif-motif batik type ini umumnya eksklusif lantaran tak ada persamaannya di market.

Awal Mei lantas, umpamanya, Iman memperoleh pesanan bikin batik bermotifkan putri keraton dari Yogyakarta. Motif putri keraton itu pingin dibuatkan dengan batik garutan.

Sesudah bergelut dengan pembuatan batik sepanjang kian lebih 25 th., Iman juga bikin style busana batik yang coraknya divariasikan atau di beri sentuhan kreatif sesuai sama perubahan mode teranyar. Ini didasarkan pada guna kain batik yang tambah meluas. Batik bukan cuma dipakai penggunanya untuk menghadiri acara resmi serta spesifik, namun umum dipakai untuk kesibukan sehari-hari, seperti jadi satu diantara seragam kerja pada hari Kamis atau Jumat.

Bahkan juga banyak pihak serta komune batik dengan cara terus-menerus mencanangkan pemanfaatan batik. Sudah pasti Iman bersukacita lantaran semangat ini sangatlah menopang usaha melestarikan etika batik.
Share on Google Plus

About Rereongan Peduli

HdG Team Trip Planner, Wedding dan Event Organizer, Pendamping Wisata Garut Terpercaya dan Paling Berpengalaman dibawah naungan CV Hotel di Garut.
    Blogger Comment

0 komentar:

Posting Komentar